Pada akhirnya, hidup memang selalu penuh tikungan tidak selalu lurus seperti jalan tol. Sebagaimana sebuah roda yang bergerak, ada kalanya kita mabuk dalam ekstase kemenangan dan keberhasilan dan ada kalanya kita terpeleset jatuh ke dalam lumpur duka derita. Walaupun demikian dalam proses perputaran tersebut ternyata telah membentuk kita menjadi manusia yang sesungguhnya, menjadi “becoming a true person”.
Kini sudah saatnya anda rehat sejenak, tataplah cermin, kemudian lihat diri anda sekarang. Kemudian bayangkan diri anda tahun depan, lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi, dan seterusnya, kira-kira nanti apa yang akan nampak di dalam cermin tersebut? Apakah seorang penjual makanan keliling? seorang pedagang di mall? seorang pengusaha? seorang pegawai dengan gaji pas-pasan? seorang executive?
Apakah anda sudah berbahagia dengan kehidupan yang anda miliki saat ini? Jika anda belum berbahagia maka cobalah untuk lebih menerima apa yang telah kita punya, lebih banyak mensyukuri apa yang telah kita terima. Dalam kondisi apapun “senangkanlah hati kita”, Jangan bersedih!
“Kalau engkau kaya. senangkanlah hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit melalui hartamu.”
“Dan jika engkau fakir miskin, senangkan pulalah hatimu! Karena engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang sering menimpa orang-orang kaya. Senangkanlah hatimu karena tak ada orang yang akan hasad dan dengki kepadamu lagi, lantaran kemiskinanmu…”
“Kalau engkau dilupakan orang, kurang masyhur, senangkan pulalah hatimu! Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacimu…”