Entah yang keberapa kali mereka mampir di kampung ini, yang jelas dalam bulan ini sudah sering mereka mangkal tepat di depan rumah. Rombongan itu terdiri dari 4 orang yang merupakan perpaduan antara 2 orang musisi, satu penari dan satu pengarah tari atau koreographernya. Alunan musik dimulai dengan gendang yang dipukul kemudian diikuti dengan pukulan “bonang”. Setelah musik ditabuh dan mencapai harmoni maka pengarah tari mulai memerintahkan si penari untuk membawakan tariannya.
Saya tidak tahu darimana asal kesenian ini, yang jelas di wiki disebutkan bahwa kesenian ini merupakan kesenian tradisional yang dikenal di Indonesia dan beberapa negara lain seperti India, Pakistan, Thailand, Vietnam, Jepang, Cina dan Korea.
Penari pada kesenian ini telah dilatih sedemikian rupa sehingga tampak luwes dan tidak kelihatan grogi ketika tampil di depan umum. Tentunya keahlian tersebut bukan karena sang penari menggunakan pikirannya tetapi lebih kepada kebiasaannya. Yang hebat adalah pengarah tarinya.
Dalam kehidupan ini rasa-rasanya banyak hal yang terjadi mirip dengan kesenian Topeng Monyet. Masih ada karyawan (baca Atasan) di Perusahaan yang menyuruh bawahannya agar melakukan pekerjaannya tanpa harus berpikir, hanya boleh melakukan. Dan ironisnya bawahannya juga melakukan apa yang disuruh tanpa berfikir sama sekali. Ini terjadi juga di tempat sekarang saya bekerja.
Demikian pula di ranah politik, pemerintahan dan di lingkungan lainnya saya yakin masih banyak terjadi hal-hal seperti itu. Namun pengarah tari dan penarinya agak berbeda dalam masalah bentuk walaupun secara kelakuan tidak jauh berbeda.